Konflik di Selatan Thailand Akan Terus Meledak

Saturday at 8:21pm

Mereka yang tinggal di luar Thailand sering membayangkan negara tersebut sebagai negara yang memiliki masyarakat yang homogen. Tapi, jika dilihat lebih dekat, masyarakat Thailand sesungguhnya sangat beragam. Mayoritas masyarakat Thailand memang menganut agama Budha, agama tak resmi negara. Tetapi ada cukup banyak penduduk Thailand yang menganut agama Kristen, Konghuchu, Hindu, Yahudi, Sikh dan Tao. Bahkan menurut beberapa perkiraan, hampir 10 persen dari 64 juta warga Thailand adalah Muslim.

Muslim merupakan kelompok minoritas terbesar kedua di Thailand, setelah etnis China. Sebagian Muslim Thailand adalah keturunan Persia, Cham (Muslim Kamboja), Bengal, India, Pakistan dan China. Tetapi mayoritas dari mereka adalah orang Melayu. Muslim Thailand hidup di berbagai provinsi negara tersebut.

!Tapi kebanyakan Muslim Melayu hidup di berbagai provinsi bagian selatan Thailand seperti Pattani, Yala Naratiwat, Songkhla, dan Satun, yang berbatasan dengan Malaysia.

Tidak seperti saudara mereka Muslim non-Melayu yang cenderung lebih dapat berbaur, Muslim Melayu menemui kesulitan menjadi bagian tak tepisahkan dari budaya Thailand. Sejumlah gerakan separatis muncul sebagai akibatnya.

Langkah-langkah yang diambil pemerintah Thailand untuk menekan gerakan-gerakan malah mengakibatkan konflik puluhan tahun.

Kekerasan yang terjadi pada pertengahan tahun 2004 dan berlangsung hingga tahun 2010 kini memperlihatkan bahwa solusi alternatif terhadap konflik ini perlu ditemukan.

Salah satunya adalah dengan meninjau ulang kebijakan asimilasi dan integrasi yang telah diterapkan pemerintah Thailand di kawasan selatan Negara itu selama puluhan tahun.

Muslim Thailand yang beretnis Melayu telah tinggal di wilayah selatan Thailand sebelum Kerajaan Thai yang sekarang berdiri. Daerah tempat mereka tinggal dijadikan bagian Kerajaan tersebut pada paruh akhir abad ke-18.

Muslim Melayu menentang penggabungan ini karena mereka memiliki kesultanan sendiri dan lebih suka bergabung dengan sebuah negara Melayu atau memerintah diri mereka sendiri.

Kebijakan asimilasi besar-besaran yang diluncurkan oleh partai nasionalis pimpinan Pibul Songkhram pada 1940-an menciptakan penolakan lebih besar dari kalangan Muslim Melayu.

Pemerintahan Pibul mencoba memaksa orang Melayu untuk membuang jati diri mereka baik sebagai Melayu maupun Muslim. Mereka dilarang mengenakan sarung dan kerudung yang notabene merupakan pakaian tradisional Melayu, tidak diperkenanan berbahasa Melayu dan dianjurkan untuk menggunakan nama-nama berbau etnis Thai.

Mereka juga dilarang melaksanakan ajaran Islam karena dengan alasan agama Buddha adalah agama utama di Thailand.

Pemerintahan Pibul juga menghapus pengadilan agama yang telah didirikan untuk mengatur urusan-urusan keluarga Muslim. Selain itu, murid-murid Melayu di sekolah negeri dipaksa memberi hormat pada gambar-gambar Buddha yang dipasang di sekolah mereka.

Mereka yang menolak untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ini ditahan; sebagian bahkan disiksa. Kebijakan ini berakibat fatal terhadap hubungan antara pemerintah Thailand dan rakyat di selatan.

Meski kebijakan-kebijakan ini akhirnya dihapus, satu hal yang kelihatannya tetap tak berubah. Pemerintah Thailand, seperti kata Michael Vatikiotis, seorang ahli Asia Tenggara yang tinggal di Singapura, “Tetap enggan untuk mengakui bahwa konflik di Thailand adalah konflik yang melibatkan masalah-masalah sosial dan budaya yang cukup rumit”.

Tak heran, meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya yang cukup konstruktif, kebijakan yang mereka ambil tetap menunjukkan kurangnya sensitivitas budaya.

Bangkok malah cenderung melihat konflik ini sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan kriminal yang dilakukan kelompok-kelompok agama berhaluan keras di wilayah selatan. Karena itu, operasi militer selalu menjadi tulang punggung kebijakan-kebijakan mereka.

Selain itu, pejabat pemerintah yang ditugaskan di wilayah Muslim Melayu kebanyakan masih berasal dari etnis Thai dan beragama Buddha, hingga jumlah perwakilan Muslim di tingkat nasional dari wilayah ini menjadi minim.

Kebijakan asimilasi dan integrasi adalah sumber konflik di Thailand selatan. Konflik di wilayah ini akan terus meledak …………!!!!!

About these ads

2 Responses to Konflik di Selatan Thailand Akan Terus Meledak

  1. cawan says:

    mohon supaya , banyak tulisan2 dalam bahasa melayu . agar kami bukan orang thaland faham .

  2. hamba says:

    tolong hantar vedio gadis melayu dirogol dan peristiwa lainnya yang menghancurkan marwah orang melayu patani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: